Kisah Khoiril Anwar, Alumnus UNAIR Integrasikan Ilmu Kimia dan Militer

Alumnus Departemen Kimia Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1994, M. Khoiril Anwar, berhasil meniti karier gemilang di dunia militer.

Integrasikan Ilmu Kimia dan Dunia Militer

Perjalanan karier seorang sarjana sains seringkali identik dengan dunia akademisi atau industri. Namun, M. Khoiril Anwar, alumnus Departemen Kimia Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1994, berhasil mematahkan stereotipe tersebut dengan meniti karier gemilang di dunia militer. Dengan latar belakang ilmu kimia yang kuat, ia mampu mengintegrasikan keilmuan sains dengan tugas dan tanggung jawab strategis di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Berasal dari SMAN 2 Bojonegoro, Jawa Timur, Khoiril memulai langkahnya di program studi Kimia karena ketertarikannya yang mendalam pada ilmu alam sejak SMA. Terutama saat ia melihat bagaimana sekolahnya mendukung kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas praktikum kimia yang sangat lengkap pada masa itu.

Awal Karier di Dunia Militer

Setelah menyelesaikan studinya, Khoiril mengambil langkah berani yang jarang diambil oleh rekan sejawatnya, yaitu menempuh pendidikan militer SEMAPAPK di Akademi Militer. Setelah lulus pendidikan militer, ia melanjutkan pendidikan di Kobangdikal untuk memperdalam spesialisasi militernya.

Karier awalnya di TNI Angkatan Laut tetap tidak jauh dari latar belakang keilmuannya. Ia mendapatkan tempat di Laboratorium Induk Kimia dan Material Dislitbangal. Di sana ia mengemban tugas sebagai Kaur Lab Minyak Pelumas, Kaur Pemeliharaan Material, hingga menjadi Kasub Si dan Kasilab Kimia.

Perjalanannya pun tak luput dari tantangan besar dalam mengelola instrumen laboratorium yang canggih namun memiliki keterbatasan SDM yang memahami prinsip kerjanya. Berbekal ilmu dari Kimia UNAIR, ia berinisiatif menyusun metode, prosedur, serta instruksi kerja standar sesuai ISO 17025 untuk setiap pengujian yang dilakukan.

Penugasan Strategis dan Inovasi Teknologi

Dinamika pengabdiannya terus berkembang seiring berjalannya waktu. Pada tahun 2010, Khoiril sempat mendapatkan penugasan strategis di luar struktur militer, yakni di SKK Migas pada Kementerian ESDM selama dua tahun. Setelah itu, ia dipercaya menempati posisi sebagai Kepala Bagian Produksi di Fasharkan Bitung, sebelum akhirnya kembali ke Dinas Litbang di Jakarta untuk mengemban amanah sebagai Kasi Material Perbekalan Teknik.

Selama menjalani peran tersebut, alumnus UNAIR ini juga menghasilkan beberapa karya. Antara lain pembuatan alat selam closed circuit untuk pasukan khusus (Pasukan Katak dan Denjaka), alat selam semi-closed circuit untuk penyelam Kopeba, pembuatan soda lime sebagai CO2 absorber untuk alat selam tersebut, serta alat bantu selam berupa kendaraan bawah air Diving Propulsion Vehicle (DPV) yang dapat dikendarai dengan kecepatan maksimum 5 knot. Ia juga kembali menjabat sebagai Kasi Lab Kimia.

Berbagai posisi tersebut membuktikan bahwa ilmu kimia yang ia pelajari sangat dominan dalam mendukung tugas-tugas di laboratorium TNI AL. Terutama dalam analisis pengujian untuk quality control material alutsista serta penelitian untuk mengoptimalkan kinerja peralatan utama sistem senjata.

Menjadi Pemimpin di Bidang Informasi dan Pengolahan Data

Puncaknya, pada tahun 2025 hingga saat ini, Khoiril mendapat kepercayaan besar sebagai Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data (Kadisinfolahta) Kodaeral X Jayapura. Di posisi ini, ia bertanggung jawab penuh dalam mengatur komunikasi digital dan mengolah data di lingkup Kodaeral X.

Meski kini berada di pucuk pimpinan yang berkaitan dengan data dan informasi, ia tetap menekankan bahwa disiplin ilmu sains telah membentuk pola pikirnya yang sistematis. Terlebih materi komputasi kimia menjadi pondasi penting dalam perjalanan kariernya saat ini.

Baginya, di tengah dinamika kerja TNI AL yang tinggi, ilmu kimia adalah dasar. Namun, pengembangan kompetensi manajemen SDM, logistik, keuangan, serta ilmu komunikasi menjadi kunci sukses dalam menjalankan organisasi yang kompleks.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Khoiril menekankan bahwa ilmu kimia memang dapat mengubah dunia, namun bukan satu-satunya kunci kesuksesan di dunia profesional. Ia mendorong generasi muda untuk memperkaya diri dengan soft skill dan pengetahuan di luar bidang utama agar memiliki nilai unik yang tidak dimiliki orang lain.

Dengan prinsip “bermanfaatlah bagi manusia yang lain,” ia berharap generasi muda dapat terus berinovasi. Ia juga merefleksikan bahwa jika diberi kesempatan kembali ke masa kuliah, ia ingin lebih aktif dalam proyek ilmiah dan menciptakan ruang diskusi untuk membedah tren aplikasi kimia di masa depan.